Selasa, 19 Oktober 2010

Mengubah Image Negatif Lokalisasi Prostitusi Saritem, Libatkan Warga Sekitar



Setiap mendengar nama Saritem, maka pikiran orang bisa saja langsung terbayang pada sebuah lokalisasi prostitusi di kota Bandung, ditengah kawasan inilah berdiri Pondok Pesantren Daruttaubah.

Berdasarkan catatan sejarah yang ditulis seorang barat, saritem sudah ada sejak awal abad ke 18. Kota Bandung menjadi tempat istirahat dan pelesiran pembesar – pembesar belanda, karena terkenal  panorama alam dan sejuknya udara pegunungan sekaligus banyak perkebunan sekitarnya.
Tentunya catatan sejarah tersebut bukanlah hal yang patut di dibanggakan. Namun merupakan  lembaran kelam yang telah berlangsung sekian lama, tidak sedikit yang telah berjuang untuk menghapus catatan kelam tersebut  dari waktu ke waktu hingga menjelang abad ke – 20, upaya tersebut tidak pernah terhenti namun tidak bergeming.

 Untungnya pada awal abad ke 21 dengan di pelopori oleh Walikota Bandung H.AA Tarmana dengan dukungan penuh masyarakat setempat dan warga kota bandung berhasil di tembus, tentunya upaya merubah image yang telah berkarat ini memerlukan tahapan perencanaan yang berkesinambungan serta kesabaran dan kearifan yang tinggi sehingga tidak menimbulkan gejolak yang tidak di harapkan. Penataan kembali lokasi saritem yang meliputi aspek mental, rohani, keagamaan, dan sosial ekonomi yang masing – masing di koordinir oleh FKPP, kepolisian, dan bagian sosial pemerintah kota bandung. sebagai tahap awal, dan telah diresmikan pada tanggal 02 Mei 2000 oleh bapak Walikota Bandung. pondok pasantren Daruttaubah yang berlokasi dijalan Kebon Tangkil Rt. 10 Rw. 07 Kelurahan Kebon Jeruk  Kecamatan Andir Kota Bandung.
   
Menurut Ust. Ubaidillah Hidayat “keberadaan pondok pasantren Daruttaubah ini tepat ditengah lokalisasi prostitusi saritem ini merupakan kelebihan pondok pasantren ini sendiri.” Kegiatan – kegiatan pondok pasantren ini tidak jauh berbeda dengan pondok pasantren pada umumnya, akan tetapi keberadaan pondok pasantren Daruttaubah berperan penting dalam penataan  aspek mental, rohani, keagamaan, dan sosial ekonomi.  Ust. Ubaidillah menututurkan keberadaan pondok pasantren ini sangat di dukung oleh masyarakat sekitar, bahkan cukup banyak anak – anak yang tinggal didaerah saritem ini yang mengikuti berbagai kegiatan dipondok pasantren ini.

Kegiatan santri di pondok pasantren ini tiap harinya dimulai dari pukul 5 pagi sampai tidur kembali pukul 10 malam, para santri di pasantren ini di sibukan oleh berbagai kegiatan keagamaan, seperti yang di tuturkan salah satu santri di pondok pasantren ini Atim (19). “Di bulan ramadhan ini kegiatan rutin yang di adakan adalah pasantren kilat, santri disibukan dengan kegiatan pengajian, pasaran tak jauh beda dengan pondok pasantren lain tapi lebih cepat ngajina,” ujar  Atim.

(Ludi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar