Matahari mulai menampakkan sebagian cahayanya, rasa dingin pun mulai menghilang, 2 orang penjaga parkir mulai beraksi melaksanakan tugasnya, menanti para mahasiswa dan dosen yang hendak melakukan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) untuk memarkirkan motornya.
Dihitung-hitung dalam sehari sedikitnya 100 motor terparkir dikawasan parkir yang seadanya itu. Hanya disekitar pinggiran jalan raya di Kampus UNIKOM dan di depan Dealer HONDA Dipati Ukur Bandung. Penjagaan yang begitu ketat membuat pengguna motor merasa nyaman memarkirkan motornya disana. Namun, pada saat keluar area parkir, pengendara harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 2000,- padahal sebelum adanya kenaikan harga parker itu hanya sekian persen saja, dari Rp. 300 menjadi Rp. 500. Padahal tidak harus ditaikan pun mereka sudah untung, karena parkir yang seharusnya Rp. 500,- dia sudah mengalokasikan Rp. 1000. Timbul pertanyaan, mengapa demikian? Bukankah hal itu tidak semestinya terjadi? Lalu dialokasikan kemana uang hasil parkiran itu?
Kini para mahasiswapun
enggan untuk parker disitu, termasuk saya sebagai penulis merasakan, betapa
sayangnya mengeluarkan uang sebesar itu untuk biaya parker, sedangkan masih ada
tempat parker yang disediakan oleh kampus, yang hanya memperlihatkan STNK saja
untuk keluar.
Panggil saja tukang parkir
itu Dede dan Kakek, dalam sehari minimal Rp 200.000 yang diperoleh dari hasil
menjaga tempat parkir. Uang tersebut dikoordinir oleh salah satu tukang parkir .
Sebagian uang itu digunakan untuk makan, “ngopi” para penjaga parkir selama
bertugas. “Pihak rektorat memberikan uang “Ngopi” sebesar Rp 2000/orang. Hanya
cukup untuk kopi dan sebatang rokok. Gimana dengan konsumsi makannya? Karena
uang gaji yang setiap bulannya Rp 600.000 hanya cukup untuk kebutuhan keluarga
saja. Makanya kami memanfaatkan uang tersebut,” Ujar Dede. (Diky.P)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar